Jejak Pelita Romo Mangun

Satu dari sedikit kegemaran yang diwariskan Bapak kepada saya–selain menikmati kisah Mahabharata dan Ramayana dalam bentuk wayang orang–adalah jalan-jalan. Jangan bayangkan kegiatan jalan-jalan kami sebagai kegiatan tamasya dengan tujuan khusus, apa yang saya maksud jalan-jalan adalah murni kegiatan ngalor-ngidul. Jalan saja, tanpa tujuan yang pasti. Singkat dan tanpa direncanakan.

Saya tak pernah bertanya, “mau ke mana?” saban kali bapak mengajak saya naik vespa sepulang kerjanya. Rumah kami dliewati oleh jalan lintas kabupaten yang, meski begitu lebar, tak pernah sampai ramai benar. Sekitar dua ratus meter ke arah selatan, ada sebuah perempatan besar. Nah, perempatan ini menjadi titik awal petualangan kami menuju banyak kemungkinan sembari menunggu matahari terbenam.

***

Pada tahun terakhir studi di Insan Cendekia, saya menemukan kembali kesenangan melakukan kegiatan jalan-jalan ini. Setiap minggu pagi, ketika jatah pesiar jatuh pada siswa putri, saya dan beberapa kawan berbondong-bondong meminta ijin keluar sejenak dengan alasan kepingin lari pagi. Mengitari perkampungan dan area persawahan yang mengelilingi penjara suci sungguh merupakan suatu kemewahan hidup bagi anak-anak suburban macam kami. Ritual dwimingguan ini kemudian lambat laun berkembang; dari segi rute berikut jumlah pengikutnya.

Dalam momen-momen seperti ini saya memandang Insan Cendekia dari sudut lain, secara harafiah maupun metaforik. Saya jadi teringat kisah turun-temurun mengenai awal berdirinya sekolah ini. Bagaimana sebuah kompleks bangunan megah berdiri di tengah peradaban yang bahkan belum tersentuh oleh listrik. Konon, pada kala itu, ketika malam tiba, masyarakat desa berbondong-bondong menghampiri kompleks Insan Cendekia yang benderang oleh nyala lampu dari listrik genset. Pastilah penghuni kota benderang maupun penduduk desa di sekelilingnya mengalami kegumunan yang sama kala itu. Masing-masing dilanda gegar oleh kontras yang nampak di depan mata.

Saya jadi berpikir, setelah sekian tahun, bagaimana kiranya terang dari dalam kota kecil ini bisa dirasakan oleh sekelilingnya.

***

Sekarang, di saat saya berdomisili di Yogyakarta, kebiasaan jalan-jalan ini mencapai tingkatan yang baru. Jika dulu  kebiasaan ini saya anggap sebagai bentuk kemewahan hidup kaum suburban, kini saya bahkan merasakan kesyahduan di antara arus manusia yang bergegas, kepulan asap, deru mesin, bahkan aroma pesing yang menempel di pagar trotoar. Belakangan, saya menemukan istilah yang sepertinya pas untuk menamai kegiatan ini: flânerie.

Flânerie mengacu pada laku para flâneur–istilah yang dipopulerkan oleh penyair cum kritikus seni Charles Baudelaire  pada abad ke-19 di Paris lewat esainya The Painter of Modern Life. Jiwa dari laku ini adalah modernisme–yang juga menjadi ruh bagi karya-karya Baudelaire. Flâneur menjadikan kerumunan manusia sebagai elemen penting sebagaimana udara pada burung dan air pada ikan. Menyatu dalam kerumunan, merasakan detak dan gelombang peradaban. Berada di pusat meski sejatinya tersembunyi.

Pada prakteknya–-dan dalam berbagai definisi yang dibangun selepas Baudelaire–-flâneur boleh jadi siapapun yang berkelindan di tengah riuh kota; dari kaum borjuis hingga bohemian, para pemikir maupun pemalas, pelancong, pengamat keseharian hingga siapapun yang berjalan lepas sesuka hatinya.

Ada banyak kisah yang melibatkan banyak tokoh sejauh sudut-sudut kota yang saya jelajahi secara acak. Meski acak, masing-masing merupakan mozaik berharga yang tanpa disadari menyusun pemahaman saya atas kota ini secara utuh. Berbagai kisah ini mungkin akan saya ceritakan lain waktu. Kali ini, biarkan saya bercerita mengenai periode awal laku flânerie yang mengantarkan saya pada kisah mengenai faedah ilmu serta cinta kasih.

***

Awal dari kebiasaan flânerie ini mulai berkecambah tak lama selepas saya tiba di Jogja. Sedari awal menjejakkan kaki hingga masa orientasi kuliah, saya tinggal bersama belasan saudara se-daerah di asrama Bogani yang merupakan asrama mahasiswa Bolaang Mongondow. Asrama Bogani terletak di kampung Ratmakan, salah satu dari sekian kampung yang dilewati oleh kali Code–batas simbolik antara dua kerajaan pecahan Mataram: Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.


Saya tak bisa menjelaskan perasaan apa yang muncul ketika berkelindan di antara labirin pemukiman dan warga yang dengan ramah melemparkan senyuman. Paling rutin, saya menelusuri Ledok Ratmakan yang membentang di bawah jembatan Sayidan, mengingat asrama Bogani terletak di bilangan ini. Hingga suatu waktu, saya menyusuri kali Code dari jalan raya ke utara dengan sepeda motor, lantas berhenti sejenak di jembatan Gondolayu. Jarak dari jembatan Gondolayu ke jembatan Sayidan kurang lebih tiga kilometer.

Saya menengok ke arah selatan, terdapat barisan perumahan yang dibangun dengan menyesuaikan kontur lembah. Dibandingkan perkampungan di Ledok Ratmakan, lembah sungai di wilayah ini cenderung  tinggi. Pemandangan ini memantik rasa penasaran saya, yang memutuskan turun ke bawah sembari menelusuri jalur ini ke arah selatan. Di antara rumah permanen berbahan beton, hal yang paling menarik perhatian saya adalah sejumlah rumah bambu dengan desain arsitektur yang ekletik. Alih-alih bertanya mengenai sejumlah bangunan unik tersebut, saya memaklumi saja dalam hati. Toh ini Jogja, pikir saya. Ekletisisme adalah jiwa dari kota budaya ini.

Di lain kesempatan, saya dan abang-abang dari asrama nangkring di salah satu angkringan yang tak jauh letaknya dari jembatan Gondolayu. Dari sekian banyak obrolan malam itu, saya sempat menyinggung perihal kawasan perumahan yang saya telusuri tempo hari, khususnya perumahan bambu dengan desain ekletik itu. Sang empunya angkringan tiba-tiba saja menyahut sambil menyebut nama Romo Mangun.

***

Beberapa hari kemudian, berbekal sedikit cerita dari bapak pemilik angkringan, saya kembali menelusuri Ledok Code. Perkampungan ini diberi nama demikian, boleh jadi karena hubungan kuat dengan sungai yang mengalir di sampingnya. Hubungan yang tak selalu manis memang, tapi soal ini biar nanti saya ceritakan lebih lanjut.

Kali ini lebih jauh ke arah selatan, melewati sejumlah anak tangga menuju salah satu monumen yang dibangun untuk mengenang jasa tokoh penting bagi warga Ledok Code. Museum Romo Mangun, monumen yang dibangun selepas arsitek, sastrawan dan humanis tersebut meninggal dunia. Menariknya, tak ada benda peninggalan milik beliau, karena hasil karya Romo Mangun yang sesungguhnya terbentang di sepanjang wilayah Ledok Code.

***

Setengah abad yang lalu, Ledok Code masih merupakan wilayah yang ditumbuhi semak belukar, setidaknya demikian yang dikatakan oleh pak Basuki sebagai salah satu generasi awal. Tak hanya itu, masyarakat sekitar juga memberikan stigma buruk kepada penghuni daerah ini. Mungkin bukan dengan alasan yang sekadar diada-adakan juga. Sekian puluh orang yang menempati wilayah semak belukar tersebut adalah para pendatang dari berbagai daerah. Tanpa bekal keahlian juga pendidikan, konon komunitas kecil ini pada akhirnya menapaki jalur kriminal. Daerah ini akhirnya menjadi sudut gelap kota Jogja.


Hingga suatu ketika, medio 1984, pemerintah kota Yogyakarta mengeluarkan keputusan untuk “membersihkan” kawasan pinggiran kali Code. Dasar dari keputusan ini adalah, wilayah sejauh 10 meter dari tubuh sungai harus bersih dari pemukiman, sebab secara alamiah merupakan daerah luahan banjir. Keputusan ini lantas dirasa problematis, sebab tak ada upaya pemerintah untuk merelokasi warga. Selain itu, wilayah bantaran sungai lainnya tidak mendapatkan perlakuan yang serupa.

Adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, seorang pemuka agama, arsitek cum sastrawan yang membawa cahaya ke sudut gelap kota Jogja tersebut. Romo Mangun – begitu akrabnya beliau dikenal – tidak sekadar datang dengan misi penyelamatan tanpa solusi. Sebaliknya, argumen dan visi beliau jelas. Hal yang masih jelas terlihat di Ledok Code, bahkan tiga dekade setelahnya

***

Lantunan musik band Jepang yang menyembur dari speaker di dalam museum menghadirkan nuansa kontras dengan sosok lelaki di ruangan itu. Leo Candra, lebih dikenal dengan nama Bandung oleh masyarakat sekitar, memiliki perawakan tambun, berkulit gelap dengan rambut gondrong. Tapi boleh jadi musik tersebut adalah kegemaran Syahril, bocah SMP yang sepanjang percakapan kami lebih banyak diam.

“Generasi ketiga kayak Syahril ya nggak tahu kalo ditanya soal Romo. Orang dia lahir aja Romo udah meninggal,” mas Bandung menjelaskan. “Tapi yang jelas, mereka bisa sekolah secara nggak langsung gara-gara Romo.”

Mas Bandung menceritakan bahwa dalam proses advokasinya, Romo Mangun datang dengan argumen yang kuat. “Idealnya kan dari pemerintah 10 meter dari bibir sungai itu harus kosong. Tapi Romo yakin kalo nggak bakal kena banjir di sini. Soalnya letaknya tinggi. Dan nggak bakal longsor juga, (tanah di) bawahnya padas (batuan keras) soalnya.”


Lantas Romo Mangun mendesain bangunan dari bambu dengan bentuk yang khas, apik secara fungsi juga estetika. “Nyesuain kontur mas. Ini kan tebing, jadi bentuk rumahnya memanjang sama bertingkat. Sama satu lagi: menghadap sungai.” Salah satu bangunan yang dirancang Romo dan banyak membuat orang berdecak kagum adalah balai pertemuan. Masih berdiri kokoh selama kurang lebih 3 dekade meski dibangun di atas gorong-gorong.

Soal bangunan yang menghadap sungai, ada fasafah dibaliknya. Romo menegaskan pada masyarakat Ledok Code bahwa kali adalah halaman rumah mereka. Jika kali kotor, maka halaman rumah mereka kotor. Dengan prinsip ini, beliau menekankan pentingnya menjaga kebersihan sungai, sekaligus menjadikan masyarakat sebagai penjaga lingkungan.

***

Syahril boleh jadi tidak mengenal Romo Mangun secara langsung, namun apa yang ia nikmati saat ini merupakan hasil pemikiran dan kerja keras arsitek penerima The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award tahun 1995 ini. Pasalnya, pembangunan tak berhenti sebatas pada sarana fisik. Sekian lama Romo Mangun tinggal dan membaur bersama masyarakat sembari membina karakter mereka. “Romo paling marah kalo ada makanan nggak habis njuk dibuang,” kata mas Bandung. “Pokoknya gimana caranya harus habis semua. Terserah mau diolah kayak gimana.”

Pada fase akhir pembangunan di Ledok Code, masyarakat dibina dan dipersiapkan memasuki dunia kerja sesuai keinginannya masing-masing. Upaya dilakukan agar para penduduk memiliki penghasilan tetap. “Yang mau kursus jahit, ternak, jadi satpam, buka usaha, semua dicarikan modal.”


Dalam mendidik masyarakat sekitar, Romo bersikap tegas. Bahkan semua preman segan dengan beliau kala itu. “Lha wong di sini isinya kebanyakan preman Mas waktu itu. Ini kan daerah hitam istilahnya. Dulu bikin rumah dari kardus gitu, sorenya udah dibakar Kamtib. Gitu terus tiap hari.”

***

Apa yang dilakukan oleh Romo Mangun – meski tak bisa dibilang sepenuhnya sempurna – adalah contoh dari kemuliaan ilmu pengetahuan yang tidak serta-merta berdiri angkuh. Bahwasanya keparipurnaan ilmu pengetahuan, adalah tentang faedahnya bagi orang lain, tak semata demi kebesaran dan keagungan si empunya ilmu.

“Lantas nantinya gimana dengan generasi ketiga macam Syahril?”

“Ya jelas harus keluar dari sini. Ini saja kan awalnya dulu tiga puluh orang. Sekarang udah sekitar dua ratus orang. Makanya kita usahakan mereka bisa selesai sekolah, kuliah, supaya bisa kemana-mana.”

***

Rutinitas flânerie senantiasa saya lakukan saban pagi menjelang matahari terbit atau sore sembari menunggu matahari lingsir. Lazimnya, saya tak terikat pada objek tertentu sebagai titik tuju. Perjalanan justru adalah bagian inti dari flânerie. Sore itu, sembari menapaki anak tangga, keluar dari kompleks Ledok Code, saya mencoba melemparkan imajinasi atas lansekap kota yang saya lalui. Setelah tiga dekade, apakah Jogja lebih memanusiakan para manusianya? Ataukah pelan-pelan mengubah manusia di dalamnya menjadi predator yang semakin individualistik?

(Catatan: tulisan ini sejatinya merupakan bagian dari antologi “Sepuluh Setelah Sepuluh”, kumpulan tulisan yang dibuat angkatan X Man Insan Cendekia dalam rangka memperingati ulangtahun kami yang kesepuluh, tahun lalu. Buku ini dicetak terbatas dan dimaksudkan sebagai hadiah bagi adik-adik yang sedang menempuh pendidikan di madrasah. Setelah mendapat izin dari kawan-kawan, saya memutuskan untuk mengunggah tulisan ini.)

Iklan

The Gang of Harry Roesli – Philosophy Gang

2451212

Di tahun 2013, majalah PROG memuat cover story yang mengulas mengenai kejayaan progressive rock tepat empat dekade silam. Judulnya spektakuler, 1973: The Year Prog Ruled The World. 1973 disebut menjadi momen bertemunya puncak jelajah artistik, kemajuan pesat teknologi rekaman, serta sokongan sumberdaya jor-joran dari industri musik. Ketiganya dianggap sebagai faktor penting bagi kesuksesan progressive rock di arus utama. Tahun ini juga dikenang berkat lahirnya sejumlah album klasik yang sukses merajai chart—diantaranya Selling England by the Pound (Genesis), Tales from Topographic Oceans (Yes), dan Dark Side of The Moon (Pink Floyd). Album terakhir bahkan menjadi album terlaris ketiga sepanjang masa hingga kini.   

Aransemen njelimet serta durasi lagu yang bertele-tele pada mulanya adalah bentuk perlawanan terhadap tradisi pop dan kontrol artistik industri rekaman. Ironisnya, tren ini pada akhirnya justru dianggap sebagai sesuatu yang menjual. Kesuksesan progressive rock merajai arus utama dianggap sebagai awal titik baliknya, sebelum akhirnya punk muncul sebagai bentuk perlawanan baru.

Gelombang ini boleh saja berakhir dalam kooptasi industri rekaman di pusat episentrumnya di Inggris, namun riaknya menyebar ke berbagai penjuru dunia dan menemukan bentuk perlawanannya masing-masing.

Di Bandung 1973, progressive rock hadir dalam album sarat kritik yang dimainkan dengan penuh gaya.

Adalah Harry Roesli yang mengumpulkan Albert Warnerin, Hari Pochang, Janto Soedjono, Dadang Latief dan Indra Rivai dalam kelompok musik yang kemudian dinamai The Gang of Harry Roesli. Berbekal tawaran dari Lion Records, sebuah label rekaman Singapura, keenamnya menuju ibukota demi melangsungkan rekaman di Musica Studios yang terletak di kawasan Pasar Minggu. Proses jamming membantu kelompok ini menyempurnakan kembali sejumlah materi lama. Beberapa komposisi baru pun tercipta. Hasilnya adalah album berisi tujuh nomor yang dirilis dengan judul Philosophy Gang.

Philosophy Gang menampilkan gelora dan keeksotisan yang mengingatkan akan jam band Santana era awal serta gaya bermusik plus semangat bermain-main Frank Zappa. Menggabungkan rock, funk, fusion jazz, dan folk dalam satu tarikan, progresive rock a la The Gang of Harry Roesli terdengar begitu elastis.

Gaya bernyanyi Harry juga mau tidak mau membikin kita menarik perbandingan dengan Zappa. Simak “Peacock Dog” lantas “Roda Angin” yang memperdengarkan rentang vokalnya dan kepiawaiannya beralih gaya.

Layaknya Zappa, Harry dikenal sebagai pengkritik status quo yang konsisten. Cucu sastrawan kondang Marah Roesli ini adalah seorang yang bengal sejak dalam pikiran. Dua kali masuk bui di awal usia duapuluhan, sebuah wawancara dengan Majalah Tempo menggambarkan siksaan yang diterimanya gara-gara turut berdemo menentang pembangunan TMII di tahun 1971. Kejadian ini tambah menyulut amarahnya terhadap rezim militeristik Orde Baru. Menarik mengingat sang ayah, Mayjen Roeshan Roesli, adalah seorang petinggi militer. Atas statusnya sebagai putra seorang tokoh militer Harry pernah berujar, “Saya tidak pernah merasa dihidupi oleh tentara. …Saya tidak bisa memilih sperma bapak, juga tak bisa memilih rahim ibu.”

Akan tetapi amarah Harry dituangkannya secara elegan dalam karya. Musik Philosophy Gang yang eksperimental dan bernuansa komikal adalah pendamping ideal bagi lirik penuh metafora. Agak sulit untuk menebak apa yang dimaksud dalam lirik yang ditulisnya. Namun ada kesan bahwa di album ini, alih-alih menggugat penguasa, Harry mencoba menyentil masyarakat yang seolah acuh di tengah situasi yang sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya itu yang saya tangkap dari menyimak “Roda Angin” dan “Malaria”, dua nomor akustik bernuansa syahdu namun dengan lirik paling menohok. Bagi Harry, perjuangan sepenuhnya ada di tangan rakyat. Dirinya menolak untuk percaya pada elit politik dan ogah bergantung pada birokrasi. Sikap ini juga melandasinya dalam mendirikan Depot Kreasi Seni Bandung, sebuah wadah kreatif yang getol dalam usaha memberikan pendidikan seni bagi ribuan anak jalanan di Bandung.

Titik Api yang dirilis pada tahun 1976 boleh saja disebut sebagai album terbaik Harry Roesli. Album kedua ini juga merupakan awal Harry dalam menggabungkan musik tradisi Sunda dalam bingkai progressive rock. Namun dibandingkan kolase aransemen Titik Api yang di beberapa momen terdengar agak kaku, Philosophy Gang terdengar dimainkan dengan penuh keluwesan. Jika Titik Api adalah “album rekaman” yang brilian, Philosophy Gang mempertunjukkan kecakapan unit jam band yang chemistry-nya sulit ditandingi oleh rilisan-rilisan selanjutnya. Kredit patut diberikan kepada rythym section yang ketat menjaga groove sepanjang album.

44 tahun setelah rilis perdananya, Philosophy Gang diperkenalkan kembali kepada penikmat musik  tanah air oleh La Munai Records dalam format CD dan vinyl. Bagi yang belum mengenal Harry Roesli, album debut ini adalah awal yang bagus untuk mengakrabi karya-karyanya, syukur-syukur para juragan label mau menyisihkan uang untuk merilis ulang album-album beliau selanjutnya.

Setelah kompilasi Those Shocking Shaking Days yang hype dan fenomenal itu, apa sih yang tidak mungkin?

(Album Philosophy Gang bisa didapatkan di La Munai Records)

 

 

 

Mooi Indie

mooi

Menyusun mixtape untuk The Display: sepilihan nomor “pop kreatif” dari akhir 70-an hingga awal 80-an, serta beberapa nomor musisi era kini yang menurut saya memiliki nuansa serupa dari segi aransemen juga lirik.

Enjoy…

Tracklist:
1. Guruh Sukarno Putra & Swara Maharddhika – Damai
2. Fariz RM – Mega Buana
3. Harry Sabar – Lazuardi
4. Chrisye – Indahnya Alam
5. Maliq & D’essentials – Setapak Sriwedari
6. Chaseiro – Awal dan Akhir Hari
7. Keenan Nasution – Cakrawala Senja
8. Sore – Musim ‘Ujan
9. Pure Saturday – Musim Berakhir
10. Yockie Suryoprayogo – Theme Song (Musikku adalah Aku)

 

(Dimuat di thedisplay.net pada tanggal 2 September 2016)

Orang-orang Bloomington

 

Orang-orang Bloomington

Budi Darma

(Sinar Harapan, 1980)

Dari pengantar yang ditulis oleh Budi Darma, nampak bahwa ada hubungan yang unik antara dirinya dengan Bloomington – sebuah hubungan yang lantas melahirkan dua karya terbaiknya: novel Olenka dan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington ini.

Orang-orang Bloomington menampilkan para tokoh utama yang kuat dikendalikan oleh impuls – masing-masing cerita berkelok mengikuti dorongan yang datang sekejap. Meski para narator menjelaskan gejolak perasaannya – penasaran, birahi, amarah, ketakutan, kesepian dan prasangka – selalu ada hal lain yang nampaknya mereka coba sembunyikan (ataukah saya yang sebenarnya menaruh curiga berlebih?). Mengikuti penuturan para narator dalam buku ini justru membikin saya makin sulit percaya kepada mereka. 

Sepintas, perilaku dan motif para narator dalam Orang-orang Bloomington nampak ganjil. Namun, bukankah kita juga seringkali rela menuruti dan dibikin repot oleh bisikan-bisikan ganjil dalam kepala kita?

Album Black Metal Favorit 2015

Saya menulis daftar album black metal terfavorit tahun ini sembari mengenang Bagus “Jalang” Wiratomo, salah satu teman diskusi paling mengasyikkan (dan diam-diam saya kagumi). Tahun lalu, beliau langsung mengirim pesan melalui messenger selepas membaca daftar akhir tahun yang saya tulis. Obrolan pun bergulir: perihal sejumlah rilisan yang terlewatkan olehnya, wajah black metal kiwari, hingga circle elit black metal di berbagai penjuru dunia.

Sebagai seorang seniman, buah karya visual dan bebunyian dalam berbagai proyeknya cenderung monokromatik. Soal black metal, Bagus Jalang menyenangi band-band dengan pendekatan yang cenderung primal. Hal ini mungkin berpengaruh pada Cavern Dogs, salah salah satu proyek terakhirnya. Bagus menyajikan agresi primitif dan powerful a la USBM era awal.

Seringnya, ketika bertatap muka, obrolan kami ditengahi oleh sejumlah playlist. “Apa lagi yang baru-baru?” Tak jarang, pada terka saya, apa yang saya tawarkan mungkin terlalu trendy baginya. Mungkin sama halnya dengan daftar album favorit berikut ini.

Daftar album black metal favorit ini dibuat tanpa bemaksud mendaku diri menjadi duta (hipster) black metal. Gara-garanya sederhana saja sih, musik beginian tak pernah absen dari music player saya belakangan ini (selain puluhan album live Dave Matthews Band dan John Mayer yang rutin saya rotasi bergiliran). Toh, membuat daftar akhir tahun adalah pekerjaan yang menyenangkan. Sayangnya, salah satu orang yang membikin kegiatan ini menyenangkan oleh diskusi setelahnya, pamit beberapa hari yang lalu.

Berikut daftar album black metal favorit 2015 versi Angry Cat!:

 

Album kompilasi favorit:

Desert Dances and Serpent Sermons (Crepusculo Negro)

a3135891681_10

Padang pasir Chihuahua. Di bawah sinar purnama, sekelompok kultus Aztec mengelilingi api unggun, memanggil roh para leluhur dalam pengaruh pekat substansi psikedelik.

Jauh dari dingin dan kelamnya hutan kornifer Skandinavia, Desert Dances and Serpent Sermons muncul dari padang pasir Amerika Utara. Volahn selaku “kepala suku” Crepusculo Negro membuka album dengan “Chamalcan”, nomor bernuansa spaghetti-western yang cukup mengejutkan. Disusul oleh Shataan dengan sentuhan rock psikedelik dan vokal yang mengingatkan saya pada Ozzy Osbourne. Arizmenda  hadir dengan nomor black n roll “Ropeburn Mutilation on the Outskirts of Life” sebelum Kallathon menghadirkan kembali nuansa wild-west dalam “Burning into the Black Twilight” sebagai penutup.

 

7. Krallice – Ygg Huur (Gilead Media)

krallice-560x560

Krallice seakan menyempurnakan rumus yang digunakan oleh Mayhem dalam Esoteric Warfare tahun lalu. Ygg Huur menghadirkan komposisi black/death diskordan yang mengedepankan aspek teknikal dengan sempurna. Kendati secara durasi lebih ringkas dibanding album-album sebelumnya, aransemen dalam Ygg Huur boleh jadi merupakan yang paling kompleks dalam katalog Krallice sejauh ini. Anda mungkin dapat mendengarkan sentuhan progressive yang mirip dengan Behold the Arctopus hingga Gorguts (Colin Marston dan Nicholac McMaster masing-masing tergabung dalam kedua band ini) di sepanjang album, meski dengan aura black metal tradisonal yang cukup kuat.

Bersama Liturgy yang juga merilis album bagus tahun ini, Brooklyn membuktikan bahwa selain ramai oleh fixie dan bau pomade, band-band muda dengan ciri khas kuat terus lahir dan berkembang di kota ini.

 

6. Revenge – Behold.Total.Rejection (Season of Mist)

Revenge-Behold.Total.Rejection-44998-1_1

Revenge lahir sebagai reinkarnasi dari Conqueror, band yang konon menyempurnakan microgenre bernama war metal – hibrida black metal, death metal dan grindcore dalam bentuk paling primitif nan agresif. Mengutip pernyataan pada laman situs Season of Mist,  Behold.Total.Rejection adalah sebuah manifesto mengenai penolakan – salah satunya terhadap kompromi dalam musik mereka. Dalam album ini, Revenge tetap ngeyel memainkan apa yang menjadi ciri khasnya: deru instrumen yang serupa dentum artileri. Namun hal yang membuat saya kagum dengan band ini adalah, kendati hadir dengan konsep yang kurang lebih sama, masing-masing album hadir dengan ciri khas sound masing-masing. Behold.Total.Rejection menyajikan dentum bass menyaru tembakan meriam dan rentetan pukulan snare serupa gatling gun dengan sound yang lebih primitif dan berat. Bayangkan bahwa Anda tengah berlari di tengah medan pertempuran. Dan sebelum sadar dengan apa yang sedang  terjadi, tubuh Anda telah hancur berantakan.   

 

5. Devouring Ghost – Devouring Ghost (Youth Attack)

a3883563627_10

Sembilan track dalam album ini dimaksudkan sebagai pendamping bagi sembilan karya grafis Mark McCoy yang dipamerkan di Weltkunstzimmer Gallery, Dusseldorf pada 18 April – 15 Mei silam. Saya sarankan untuk menikmati Devouring Ghost sekaligus sebagai satu paket, sebagaimana dimaksudkan oleh McCoy. Tapi mari kita pisahkan sejenak “musik pengiring” dari karya yang diiringinya. Maka Anda akan mendengarkan proyek black metal McCoy paling terpoles – juga salah satu yang paling intens. McCoy adalah seniman yang – meski kerap menghadirkan pendekatan primal dalam musiknya – terus mendorong jauh ke depan. Dalam Devouring Ghost, McCoy memainkan black metal dengan sentuhan Eropa dalam intensitas yang tak berkurang sejak rilisan perdana Charles Bronson dua dekade lalu. Intensitas seperti ini sejujurnya saya harapkan hadir dari para seniman black metal primordial, yang entah mengapa hingga menjelang akhir tahun tak kunjung hadir. Ketika Abbath sibuk piknik dan Frontschwein dari Marduk terdengar begitu nyaman di kuping, masihkah relevan membicarakan trve black metal jika salah satu karya paling intens serta matang secara konsep tahun ini justru hadir dari seorang seniman tanpa corpse-paint?

 

4. Peste Noire – La Chaise-Dyable (La Mesnie Harlequin)

peste-noire-la-chaise-dyable

Pada L’Ordure à l’état Pur (2013), Peste Noire menyajikan ragam bebunyian yang membuat kita membayangkan sedang menikmati pertunjukan opera sepanjang 60 menit. Riuh black metal berselang-seling dengan  folk yang ceria (bahkan dubstep), mengiringi Famine menyuarakan kritiknya atas dunia modern. Album ini menjadi puncak pencapaian Peste Noire secara artistik sekaligus mengantarkan mereka menuju sorotan berbagai media musik terkemuka kala itu. Kadar eksperimen perlahan diturunkan dalam album self-titled setahun kemudian, hingga dalam  La Chaise-Dyable, Famine dan pasukan pengiringnya memainkan black metal yang lebih straightforward (meski tetap dengan nuansa teaterikal  khas mereka).

Jika pada album-album sebelumnya Famine seolah tampil sebagai aktor dalam lakon pertunjukan, dalam album ini kita dibawa memasuki dunia sang vokalis dalam kesehariannya sebagai bagian dari kaum rural. Masih dengan sinisme yang sama, sosok paling kontroversial dari skena black metal Perancis ini menyumpahi kebijakan pemerintah ditemani sebotol anggur (juga kokok ayam), menjalani rutinitas kerah biru sembari memendam amarah terhadap para borjuis. Namun yang paling menarik menurut saya adalah momen perenungan Famine, ketika ia mempertanyakan kembali esensi dari kemarahan yang menggerakannya selama ini.

Album ini terdengar begitu jujur dan tajam, menghadirkan refleksi personal yang menembus batas persona, jauh dari schtick black metal yang berputar-putar di citra seram belaka. Saran saya, singkirkan album terakhir Refused dan mulai dengarkan La Chaise-Dyable jika Anda belum melakukannya.  

 

3. Lychgate – An Antidote for the Glass Pill (Blood Music)

36054-an-antidote-for-the-glass-pill

Mari masuk ke dalam labirin panjang yang dibangun oleh gema pipa organ dan susunan melodi ganjil. Ikutilah perjalanan panjang menuju dimensi antah berantah nan surealis.

Beberapa dari Anda mungkin akan menyebut Esoteric, Deathspell Omega hingga Goblin ketika membicarakan musik Lychgate. Utamanya Esoteric, band ekletik tanpa tandingan dalam khazanah funeral doom. Bukan kebetulan memang, sebab Greg Chandler, salah satu punggawa Esoteric nyatanya menjadi vokalis dan turut bermain gitar di sini. Kombinasi antara kecakapan teknikal dengan kemampuan membangun atmosfir misterius serta megah menjadikan An Antidote.. salah rilisan paling unik tahun ini. Selain itu, identitas Lychgate terasa semakin kuat jika dibandingkan dengan album debut mereka dua tahun lalu.

Sepertinya akan sangat keren jika An Antidote for the Glass Pill menjadi soundtrack bagi reboot Hellraiser (seandainya Clive Barker benar-benar serius menyelesaikan proyek ini). Oh ya, versi digital album ini data ditebus dengan harga berapapun di laman bandcamp Blood Music.

 

 

2. Liturgy – The Ark Work (Thrill Jockey)

result52.jpg

Ketika ”Fanfare” – nomor pembuka berupa aransemen horn section – berkumandang, saya seketika menyadari dari mana pattern ritmis yang menjadi signature Liturgy berasal. Jika berbicara mengenai konsep transcendental black metal Liturgy, boleh jadi pendekatan musikal ini adalah salah satu dari upaya mendukung konsep tersebut. Ini jika mengacu pada kisah dalam agama Abraham bahwa terompet adalah penanda peristiwa penting semisal turunnya wahyu.

Banyak yang mengkritik The Ark Work karena daya gedor yang tidak seintens Aesthetica. Tapi inilah puncak dari konsep transcendental black metal Liturgy menurut saya. Musik mengalun dalam repetisi yang menghipnotis, sementara Hunter Hunt-Hendrix yang – alih-alih bernyanyi – terdengar seolah sedang merapal mantra. Liturgy menyempurnakan perjalanan mereka menuju makrifat. Satu hal yang membuat saya penasaran adalah: seberapa besar pengaruh kembalinya penggebuk drum Greg Fox dari perjalanan spiritual panjang bersama Guardian Alien bagi wajah musikal Liturgy di album ini.

 

1. Misþyrming – Söngvar elds og óreiðu (Terratur Possessions)

a0812121144_5

Ketika pencapaian artistik dalam black metal diukur oleh seberapa luas lintas eksplorasi dan prefiks “post-” dalam pelabelan genre, Misþyrming hadir memberikan pukulan telak. Söngvar elds og óreiðu adalah sebuah album black metal tradisional yang diproduksi dengan kesadaran tinggi akan detail dan tekstur. Tak ada yang baru atau inovatif. Namun kepekaan dalam mengukur semua elemen: aransemen, sound dan atmosfir demi menginterpretasikan kegelapan, menjadikan album ini rilisan black metal favorit saya tahun ini. Satu lagi bukti bahwa Islandia adalah rumah bagi para musisi atmosferik berkelas.

LeftyFish – You, Fish! (EP)

10156106_1672175426362751_2116312086008093893_n

Sebetulnya tak ada yang terlalu mengejutkan dari You, Fish! – setidaknya kalau pembandingnya adalah proyek gitaris Halim Budiono sebelumnya. Jika telah akrab dengan musik Cranial Incisored, pola aransemen dalam album ini mungkin tak bakal terlalu menggugah Anda. Namun memang bukan sekadar aransemen “tak terduga” dan “mendobrak batasan” (bukannya extreme music sepatutnya begitu?) yang membikin LeftyFish patut diperhitungkan.

Sajian math-core/avant-jazz dalam You, Fish! cenderung mudah dicerna dan mungkin memang dimaksudkan demikian. Di sinilah kekuatan album ini: membuat rangkaian disonansi terdengar sedemikian mengalir. Untuk urusan ini terompet dan keyboard dimanfaatkan secara maksimal – bukan sekadar penambah aksen atau mainan untuk keren-kerenan belaka. Masih menggunakan rumus turunan John Zorn, ada nuansa Devin Townsend dalam riff gitar Halim serta pengaruh Yasuko Onuki (Melt-Banana) pada tarikan vokal Ayu. Dengan sentuhan jazz yang kental, album ini disajikan dalam bungkus sound organik (ini menjadi nilai plus tersendiri). Meski tak mengusung hal yang benar-benar baru (kalau mau jujur LeftyFish terdengar seperti tribute untuk Zorn, Townsend dan Melt-Banana), harus diakui bahwa EP dengan durasi 7 menit ini menjadi angin segar menjelang tutup tahun.

 

19.30

 
“Monumen bukan kamu yang bikin, momen mungkin kamu membuatnya. Momen tanpa monumen, dilibas waktu menjadi debu.

Karenanya, kenapa tak membuat monumen selagi bisa? Walau hal itu juga momennya hanyalah milikmu saja, mungkin hingga pada akhirnya.” ~ Bagus Jalang, 2013

(Foto diambil dari postingan Instagram Adi Adriandi)

Sigmun – Crimson Eyes

11909942_1679284679023785_1701177316_n-1447590668

Menuju pergantian tahun, makin riuh obrolan di dunia maya mengenai produk musik terbaik 2015. Beberapa orang bahkan sudah memungkasi daftar akhir tahun versinya. Hal yang membahagiakan adalah, banyak nama yang disebut sebagai calon jawara tahun ini telah mendapat pengakuan sedemikian rupa melalui album debutnya.

Sigmun dengan Crimson Eyes adalah salah satunya.

Bahkan sebelum dirilis, sebagian  sudah meyakini bahwa Crimson Eyes bakal menjadi yang terbaik tahun ini. Sebuah EP, sejumah single dan split album mungkin cukup sebagai jaminan. Namun masih ada yang membikin saya penasaran. Ramuan heavy rock a la Sigmun tidak pernah hadir dengan takaran resep yang pasti. Akankah album debut ini sepekat Cerbero? Ataukah Sigmun bakal menghadirkan kembali kompleksitas struktur a la The Long Haul?

Lalu datanglah “Ozymandias” sebagai nomor yang dilepas lebih awal. Saya sempat mengoceh bahwa Sigmun menghadirkan sesuatu yang hilang dari band-band serupa The Sword, Graveyard dan Horisont dalam rilisan terakhir mereka tahun ini. Sebuah nomor hard rock yang lebih dari sekadar nostalgia era. Tak semata hook. Megah dengan sentuhan kekinian. Nomor ini membuat banyak orang menyangka bahwa inilah rupa album penuh Sigmun: singkat, padat, hooky.

Namun ternyata Crimson Eyes tak dapat sekadar ditakar dari “Ozymandias”.

Saat vokal perlahan menyelinap masuk di sela aransemen track pertama, “In the Horizon”, saya terkagum dengan aura magis yang mampu dihasilkan oleh Haikal Azizi. Aura yang demikian, saya kira awalnya, hanya bisa ditampilkan oleh para penyihir perempuan semisal Jinx Dawson (Coven) atau Jex Thoth. “Devil in Disguise” bahkan menghadirkan aransemen kental occult-rock yang hidup berkat kekuatan vokal Haikal.

Elemen vokal betul-betul dieksplorasi dalam Crimson Eyes. Haikal Azizi berdiri lantang di depan. Menyalak dengan gagah dalam nomor serupa “Ozymandias” dan “Halfglass Full of Poison”,  lembut dan syahdu dalam “Prayer of Tempest” juga “Golden Tangerine”. Kemampuan olah vokal ini sekaligus menjadi jaminan bagi kemungkinan jelajah musikal Sigmun kedepannya.

Crimson Eyes sendiri sebetulnya hadir dengan barisan track yang cukup diverse. Sesuatu yang bakal anda sadari dengan sedikit kesabaran. Faktanya, hanya ada satu “Ozymandias” – jika sebelumnya anda termasuk orang yang berasumsi bahwa nomor ini adalah gambaran Crimson Eyes.

Ketika banyak yang menyandingkan album debut Kelompok Penerbang Roket dengan The SIGIT era awal, saya menemukan kematangan yang mendekati Detourn dalam Crimson Eyes. Sigmun menolak melulu bertumpu pada hook, menjaga densitas riff dalam kadar seperlunya, serta menyusun durasi sejauh kebutuhan tiap lagu. Nomor-nomor berdurasi panjang dibangun demi perjalanan emosional dengan letupan klimaks di akhir – dalam hal ini Sigmun banyak mengandalkan solo gitar eksplosif sebagai penutup.  Harus diakui juga bahwa mayoritas part gitar dalam album ini merupakan yang paling memorable dalam katalog Sigmun. Secara garis besar, album ini menambahkan bumbu occult rock dan desert rock dalam fondasi proto-metal a la Zeppelin yang senantiasa dipertahankan.

Debut ini sekaligus menjadi loncatan bagi Orange Cliff Records selaku label. Di tengah arus band heavy rock muda dengan paket estetika a la Southern Lord, label ini sedikit mengingatkan saya pada Volcom Entertainment yang melejitkan para jagoan seperti ASG, Valient Thorr dan Year Long Disaster. Penuh energi dan memiliki semangat bersenang-senang yang tinggi. Waspadai rilisan-rilisan berikutnya yang besar kemungkinan bakal mengisi daftar akhir tahun anda.

The Place He Wants To Go

11390371_10206147135424790_3577446358476797795_n

Sejak tadi sore, yang namanya Risky Summerbee and the Honeythief saya bikin tunduk sama ikon repeat. Sebabnya, ada yang pamit. Tak bisa ditunda. Mas Erwin Zubiyan diminta pindah tugas menghibur di lain tempat.

Saya yakin sepanjang jalan beliau bersenandung soal tempat yang bakal ia tuju.

There’s a place so far from here / It’s the place I wanna go / Where everybody greet and smile / And we can walk without a fear / And I’m washing away my dreams

Mas Erwin, jika sudah sampai, coba kau mainkan sedikit lagu-lagunya Wangi Hujan. Mana tahu Dia mau kasih turun hujan yang banyak setelahnya. Jogja panas betul. (Foto oleh Caesar M. Valavil)

Tentang Rasa dan Metamorfosa Frau

IMG_0147

Senin, 19 Oktober 2015. Seorang pria paruh baya menyelinap diantara antrean untuk sekedar menanyakan mekanisme pembelian tiket. “Ayo Pak…,” anaknya mengeluh tak sabaran, masih dengan seragam lengkap putih-merah. “Ngambil nomor antrian dulu…,” sang ayah coba sedikit menenangkan. Saya memandangi si gadis kecil yang rela menunda waktu tibanya di rumah demi mengantre pada sore hari itu.

Bagi sang gadis kecil, mungkin momen menyaksikan Frau tampil adalah semacam hiburan disela rutinitas belajar dan mengerjakan tugas. Mungkin demikian juga dengan sebagian besar dari kami yang mengantre pada sore hari itu. Menyaksikan Frau tampil bakal menjadi semacam eskapisme, rekreasi, sekaligus ajang pelepas rindu terhadap salah satu musisi muda paling berbakat saat ini. Apalagi ketika yang dirindukan menjanjikan pengalaman berbeda dalam pertunjukannya nanti, sudah tentu momen itu layak untuk diperjuangkan.

“Lani sendiri yang bikin konsepnya,” ungkap Adi Adriandi dua minggu sebelum pertunjukan. “Akeh printilane, mumet aku.” Saya tahu sang manajer bukannya sedang mengeluh, dia cuma mau membikin saya tambah penasaran. Namun cukup sampai di situ saja. “Ada beberapa kolaborator, tapi nggak bakal kita umumin,” jawabnya ketika ditanya soal siapa saja yang mungkin menemani Frau nanti, tak ingin menjadikan detail tersebut sebagai gimmick. Saya mengangguk mafhum sekaligus sependapat.

Dalam press release­ Konser Tentang Rasa, Frau menjanjikan pengalaman utuh dalam menikmati sajian musikalnya. Bersama Oskar, Lani boleh saja menyuarakan pengalaman personalnya, tapi dirinya yakin betul bahwa ruang interpretasi penikmat karyanya memiliki luasan yang tak terhingga. Pun demikian dengan bagaimana kita menempatkan musiknya lekat dengan momen-momen tertentu, jelas berbeda satu dengan lain orang. Hal tersebut rencananya bakal dipantik lewat sejumlah kesan inderawi. Bagaimana eksekusi akhirnya jelas membuat saya penasaran.

***

Kamis, 29 Oktober 2015. Lampu diredupkan selepas Tik! Tok! tampil selaku pembuka. Sajian musik pop dari trio ini membuat saya lebih rileks di tengah suhu ruangan yang bikin menggigil. Sembari mengatur posisi duduk terbaik, tiba-tiba aerosol disemprotkan dari arah panggung. Rangsangan bau yang sayangnya sulit bagi sebagian besar dari kami di deretan belakang untuk merasakannya. Beberapa saat kemudian Lani muncul dari balik pintu pada instalasi dinding yang dipasang di atas panggung. Tampak ayu dengan kebaya berwarna biru tua, Lani membawa lentera untuk menerangi langkahnya menuju Oskar yang sedari tadi menunggu.

Beberapa saat kemudian, lampu sorot diarahkan pada keduanya sebelum “Sembunyi” dimainkan. Nomor baru ini begitu pas disajikan sebagai pembuka repertoar. Lani melantunkan suara hati seorang introvert yang seringkali rikuh dalam riuh interaksi manusia. Tapi tak ada kesan canggung pada Lani. Sebaliknya, dirinya nampak begitu ekspresif dalam olah raut muka serta intonasi.

Pada jeda lagu, Lani mengungkapkan bahwa pertunjukan di Taman Budaya adalah hal yang telah sejak lama diimpikannya. Lebih dalam mengenai Tentang Rasa, dirinya bercerita mengenai kebiasaan menuju utara dengan motor miliknya sembari melantunkan lagu kesukaan berulang-ulang. Dari momen-momen seperti inilah, inspirasi tentang konsep musik sebagai bentuk pengalaman utuh datang. “Semilir angin, bau pecel lele di pinggir jalan,” tambahnya sambil terkekeh.

Selepas “Empat Satu”, Frau melanjutkan reprtoar dengan medley musikalisasi puisi “Berdiri Aku” karya Tengku Amir Hamzah dan “Berita Perjalanan” milik Situr Situmorang. “Mudah-mudahan masuk album selanjutnya,” kata Lani. Dari sejumlah nomor baru yang dimainkan, sebagian merupakan respon Lani terhadap karya yang sudah ada sebelumnya. Selain nomor musikalisasi puisi, Frau membawakan “The Butcher/Tukang Jagal” yang merupakan interpretasi terhadap salah satu lukisan Restu Ratnaningtyas. Terdiri dari dua bagian dengan nuansa yang hampir bertolak belakang, Lani mencoba menerjemahkan unsur dark comedy dalam lukisan tersebut. Untuk “Tukang Jagal”, dirinya membagi penonton ke dalam dua regu koor, masing-masing diminta menyanyikan satu di antara dua baris lirik dari lagu tersebut. Terdengar komikal, tiap baris menggambarkan karakter yang bertolak belakang – Tukang Jagal yang tak berperasaan serta Pak Rohim yang berhati sabar. Keduanya bisa jadi merupakan sosok yang sejatinya satu, tapi tentu saja itu sekedar interpretasi asal-asalan saya.

Perkara interpretasi, Lani sadar betul bahwa setiap orang punya respon yang berbeda terhadap karyanya. Pada jeda selepas sesi pertama, panitia membagikan selembar kertas serta pensil kepada masing-masing penonton. Kami diminta menuliskan apa saja kesan yang ditangkap ketika menikmati keseluruhan paket sajian Frau malam itu. Indera pengecap lantas dimanjakan dengan beragam minuman yang disajikan panitia dalam packing yang unik.

Sebelum berduet dengan Alexandria Deni (vokalis The Monophones) membawakan “Detik-detik Anu”, Lani sempat bercerita mengenai proses pembuatan lagu tersebut. Dirinya sempat merasa lirik yang ditulisnya terlalu “lebay”. “Sekalian saja dibikinin melodi a la pop mainstream. Tapi beda lah ya pop mainstream a la Frau.” Saya tersenyum mendengar pernyataan tersebut. Dalam venue yang befungsi seolah ruang pribadi, Lani mengalir apa adanya. Ia dengan jujur mengungkapkan mengenai standar yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri. Meski lepas bercerita panjang lebar, terkadang Lani berhenti sejenak untuk mengoreksi kalimat sebelumnya dengan kikuk. Sehabis mengutarakan sebuah lelucon, dirinya justru tersipu malu karena merasa gagal membuat kami tertawa. “Hehe… Nggak lucu ya?”, ujarnya sembari menepuk pipinya.

Sepanjang repertoar yang terus berjalan, saya semakin sadar bahwa Frau sedang dalam proses metamorfosa. Lani lebih membuka diri terhadap berbagai kemungkinan, salah satunya dengan menyertakan iringan string ensemble pada “Layang-layang” yang merupakan nomor baru. “Tadinya saya berpikir kalau Frau itu kudu gini-gini aja, saya main piano,” Lani menjelaskan tentang pakem musik Frau yang bisa jadi diutak-atik kedepannya. Sinergi antara Frau dengan kuartet yang mengiringinya terasa sempurna. Begitu juga dengan kolaborasi Lani-Oskar dengan Erson-Connie membawakan “Mr. Wolf” dan “I’m a Sir” yang terasa hangat.

Ketika Lani menyebutkan petunjuk mengenai nomor pungkasan, saya menahan nafas. “Arah” adalah nomor favorit saya. Beberapa saat setelah gelap, sorot lampu yang begitu menyilaukan disemburkan dari balik instalasi di belakang Frau. Sepersekian detik kemudian, imaji mengenai Musa yang jatuh tersungkur di puncak gunung Sinai muncul begitu saja dalam benak saya. Seorang makhluk yang begitu kerdil di hadapan sang khalik. Dada saya berdegup kencang. Ketika usai, seorang kawan tercengang mendapati kedua pipi saya basah.

Repertoar konser ini benar-benar diperhitungkan secara matang dengan memberikan ruang bagi berbagai spektrum emosi. Saya dan mayoritas penonton memberikan standing applause atas paket pertunjukkan yang disajikan dengan rapi. Saat keluar, penonton diminta mengumpulkan kembali kertas yang telah ditulisi kesan dan pesan mengenai konser malam itu. Saya (dan mungkin semua penonton yang hadir) berharap, interaksi dua arah tersebut mampu memberikan energi bagi Lani untuk terus berkarya. Saya melihat Tentang Rasa sebagai salah satu fase dalam proses metamorfosa Frau, bahwa kedepannya, entitas bernama Frau tak hanya sebatas Lani dan Oskar. Frau adalah Lani, Oskar dan kita sebagai bagian dari sebuah sinergi.